
oleh : Reni Banowati I., S.Si*
Pendahuluan
Suatu molekul yang memiliki atom pusat asimetris disebut molekul kiral. Molekul seperti ini dapat merespon dan memutar cahaya sebagaimana lensa. Kemampuan untuk memutar cahaya ini disebut sifat optis aktif. Senyawa optis aktif memiliki isomer yang disebut enantiomer dimana senyawa-senyawa enantiomer memutar cahaya dengan sudut yang sama besar tetapi dengan arah yang berlawanan. Derajat sudut perputaran cahaya dapat digunakan untuk :
1. Analisis kualitatif
2. Menentukan kemurnian enantiomer dari senyawa
3. Menentukan konsentrasi larutan zat optis aktif
Untuk mengamati perputaran cahaya, maka cahaya yang melewati larutan harus terpolarisasi bidang. Cahaya biasa memiliki gelombang yang terorientasi ke segala arah (cahaya tidak terpolarisasi). Cahaya terpolarisasi bidang dibuat dari gelombang yang berorientasi parallel terhadap bidang tertentu. Ketika cahaya terpolarisasi bidang melewati larutan optis aktif maka cahaya tersebut akan mengalami perputaran.
Setiap senyawa kiral murni memiliki sudut putar spesifik yang merupakan sifat fisik yang karakteristik untuk senyawa tersebut (seperti titik didih, titik leleh atau densitas). Sudut putar spesifik menggambarkan seberapa besar suatu senyawa akan memutar cahaya. Nilai +87,6 menunjukkan rotasi searah jarum jam sebesar 87,6o. Sedangkan enantiomernya akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan besar yang sama tetapi berlawanan arah jarum jam. Campuran rasemik yaitu campuran dua enantiomer dengan jumlah yang sama tidak akan memiliki putaran neto, karena besarnya sudut perputaran adalah sama tetapi berlawanan arah maka akan saling meniadakan. Penamaan senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi searah jarum jam diberi notasi awal + atau d (dekstro) dan sebaliknya senyawa yang memutar bidang polarisasi berlawanaan arah jarum jam diberi notasi – atau l (levo).
Rotasi spesifik, , merupakan sifat yang karakterisitik untuk masing-masing senyawa dan dapat digunakan untuk analisis kualitatif. Rotasi teramati (obs) tergantung pada konsentrasi sampel (c), panjang dari sel ( l ) dimana sampel ditempatkan dan rotasi spesifik, .
[α]_20^D= α_obs/(c x l)
α_obs=[α]_(20 )^D x c x l
[α]_20^D : rotasi spesifik yang diukur pada 20 oC dengan sumber cahaya D natrium (589 nm)
α_obs : rotasi teramati
c : konsentrasi dalam gram per mililiter (g/mL)
l : panjang sel dalam desimeter (dm)
Catatan : untuk perhitungan, konsentrasi 10 % dinyatakan menjadi 0,1.
[α]_20^D adalah tetap untuk setiap senyawa dan panjang sel juga tetap sehingga α_obs akan sebanding dengan konsentrasi zat. Oleh karena itu untuk menentukan kadar zat optis aktif dalam sampel dapat dilakukan dengan membuat kurva kalibrasi dari larutan standar
* Dosen Program D3 Analis Kimia mata kuliah Kimia Anorganik
MERETAS SUKSES DI D3 ANALIS KIMIA (Kuliah Perdana Mahasiswa Baru Angkatan 2011)
Acara diawali dengan game (ice breaking) untuk memecahkan kebekuan antar peserta. Dalam game ini mahasiswa diharapkan mampu mencari kenalan sebanyak-banyaknya bahkan tidak hanya antar mahasiswa baru, tetapi juga dengan kakak tingkat selaku panitia. Ketika “ice” nya telah pecah, maka acara kemudian dilanjutkan dengan acara seremonial yang dipandu oleh MC Nurul Chotimah dan Rendi, dan lagu hymne UII pun tak lupa dinyanyikan.
“Saya kira, kuliah perdana itu seperti ospek, tapi ternyata tidak. Malah ada game dan ada doorpricenya lagi. Materi motivasi juga sangat bermanfaat”. “Setelah mengikuti kuliah ini, saya merasa nyaman, banyak teman dan seperti memiliki keluarga baru”. Begitulah komentar-komentar positif yang diberikan oleh mahasiswa baru. Selamat datang mahasiswa baru, selamat belajar dan raihlah suksesmu melalui Program D III Analis Kimia UII. (oleh : Reni Banowati)
UII Jaga Kualitas Laboratoriumnya
Lebih lanjut Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. mengungkapkan, laboratorium terpadu UII tidak hanya memperhatikan peningkatan kemampuan sumber daya manusianya saja, tetapi juga terus meningkatkan peralatan pengujian sesuai dengan permintaan pelanggan guna menjamin keandalan pengujian parameter tertentu. Menurutnya, saat ini, Laboratorium Terpadu UII sudah memiliki peralatan uji yang canggih bernama GC-MS, tidak semua laboratorium uji memiliki peralatan tersebut. Peralatan ini kabarnya banyak dibutuhkan pelanggan, sehinnga untuk menguji parameter tertentu menggunakan alat uji GC-MS harus menunggu berbulan-bulan dan dengan jumlah biaya yang tidak sedikit. (sumber : http://www.uii.ac.id/content/view/1531/257/)
Prof. Agus Taftazani Meraih Nilai Kinerja Dosen Mengajar Terbaik
Pengumuman PSB
Kuliah Perdana & Orientasi Mahasiswa Baru 2011/2012
Tanggal : 15 September 2011
Jam : 08.00 – selesai
Ketentuan pakaian :
1. Mahasiswi (putri) : Busana Muslimah
– Baju panjang lengan panjang warna putih
– Rok warna hitam
– Kerudung putih
– Kaos kaki warna putih
– Sepatu hitam
2. Mahasiswa (Putra)
– Kemeja/hem lengan panjang warna putih
– Celana panjang hitam
– Peci hitam
– Ikat pinggang hitam
– Kaos kaki putih
– Sepatu hitam
– Dasi hitam
Data MahasiswaBaru Program D III Analis Kimia UII yanga telah melakukan registrasi akhir hingga 9 Septemebr 2011 dapat dilihat disini
Polarimeter
oleh : Reni Banowati I., S.Si*
Pendahuluan
1. Analisis kualitatif
2. Menentukan kemurnian enantiomer dari senyawa
3. Menentukan konsentrasi larutan zat optis aktif
Untuk mengamati perputaran cahaya, maka cahaya yang melewati larutan harus terpolarisasi bidang. Cahaya biasa memiliki gelombang yang terorientasi ke segala arah (cahaya tidak terpolarisasi). Cahaya terpolarisasi bidang dibuat dari gelombang yang berorientasi parallel terhadap bidang tertentu. Ketika cahaya terpolarisasi bidang melewati larutan optis aktif maka cahaya tersebut akan mengalami perputaran.
[α]_20^D= α_obs/(c x l)
[α]_20^D : rotasi spesifik yang diukur pada 20 oC dengan sumber cahaya D natrium (589 nm)
α_obs : rotasi teramati
c : konsentrasi dalam gram per mililiter (g/mL)
l : panjang sel dalam desimeter (dm)
Catatan : untuk perhitungan, konsentrasi 10 % dinyatakan menjadi 0,1.
[α]_20^D adalah tetap untuk setiap senyawa dan panjang sel juga tetap sehingga α_obs akan sebanding dengan konsentrasi zat. Oleh karena itu untuk menentukan kadar zat optis aktif dalam sampel dapat dilakukan dengan membuat kurva kalibrasi dari larutan standar
* Dosen Program D3 Analis Kimia mata kuliah Kimia Anorganik
Hasil Akreditasi D3 Analis Kimia
Mahasiswa D3 Analis Kimia ikuti Pelatihan Kepemimpinan
Setelah dibuka oleh Ketua Program D III Analis Kimia, acara langsug sepenuhnya diserahkan kepada Basuki Abdurahman, M.Si untuk memandu sekaligus menjadi narasumber pertama dalam kegiatan kepemimpinan. Materi yang dibawakan oleh Ust. Basuki (red. Basuki Abdurahman, M.Si) yang juga mantan anggota DPRD Provinsi DIY disampaikan dalam ruang yang telah ditutup dengan kain warna gelap, dengan harapan para peserta dapat fokus mengikuti pelatihan. Seluruh peserta pelatihan yang mengenakan baju batik diajak untuk melakukan kontemplasi (red. perenungan) dengan apa yang telah mereka perbuat selama ini sehingga banyak peserta yang merasa banyak melakukan kesalahan dan hamper seluruh dari mereka menangis untuk menyatakan penyesalannya.
Usai ustadz Basuki dilanjutkan dengan materi dari Kang Puji yang lebih banyak menyampaikan motivasi kepemimpinan. Background Kang Puji selain motivator juga seorang pengusaha air mineral yang cukup sukses, sehingga beliau mengajak kepada seluruh peserta untuk dapat menjadi orang yang sukses baik secara ukhrowi (red. akherat) serta duniawi. Menurut Kang puji apa yang beliau sampaikan kepada peserta upaya untuk membumikan apa yang telah dibawakan oleh Ust. Basuki. Dengan gaya bahasa anak muda, materi Kang Puji terasa sangat menyenangkan dan tidak membosankan.
Kegiatan pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Program D III Analis Kimia ini rencananya akan diadakan setiap tahun minimal 1 (satu) kali. “Kegiatan ini memang sudah kami rencanakan dalam program kerja D III Analis Kimia, Insya Allah acara semacam ini akan kami adakan secara rutin” tutur Thorikul Huda, M.Sc pada menemani Kang Puji seusai menyampaikan materinya.
Ruang Perkuliahan
Olimpiade Kimia Tingkat Perguruan Tinggi
Download :
1. Brosur
2. Formulir
3. Syarat-syarat Olimpiade