Program Studi DIII Analis Kimia FMIPA UII telah siap menjadi pilot project penerbitan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).  Prodi telah mempersiapkan semua perangkat dan sumber daya dalam menerbitkan SKPI bagi seluruh lulusan.  Menurut Ketua Program Studi DIII Analis Kimia, Thorikul Huda, M.Sc. upaya ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat implementasi kurikulum 2014 sehingga dapat meningkatkan daya saing lulusan di pasar global. Adanya penerbitan diploma supplement ini akan menjadi bukti bagi alumni yang dapat ditunjukkan kepada calon user.  Surat Keterangan Pendamping Ijazah merupakan pernyataan secara resmi yang dikeluarkan oleh Prodi yang berisi informasi akademik atau kualifikasi lulusan.  Adanya SKPI dapat memberikan informasi tambahan yang menyatakan kemampuan kerja, penguasaan pengetahuan, dan sikap atau moral lulusan. Informasi yang yang diberikan dalam SKPI dapat digunakan sebagai pembanding transkrip nilai hasil belajar mahasiswa. Penerbitan SKPI menggunakan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sehingga informasi yang tercantum di dalamnya dapat digunakan secara internasional.
Penerbitan SKPI ini merupakan salah satu program penguatan implementasi kurikulum 2014. Sejak 2014 lalu, Prodi telah melakukan berbagai kajian dalam penerbitan SKPI yang dikawal oleh Tri Esti Purbaningtias, M.Si. selaku ketua tim.  Melalui Program Hibah PHK-PS Batch II tahun 2015, Prodi telah berhasil mempersiapkan seluruh perangkat dan sumber daya terkait dalam penerbitan SKPI. Prodi telah menyiapkan sistem penerbitan SKPI sehingga penerbitan SKPI akan dimulai pada tahun akademik 2015/2016 mendatang.  Buku Panduan Penerbitan SKPI dan Prosedur Kerja penerbitan SKPI telah tuntas pada Juni 2015.  Tim telah mempresentasikan sistem penerbitan SKPI dalam pertemuan dewan dosen Prodi DIII Analis Kimia pada Selasa, 23 Juni 2015 lalu.
Penerbitan SKPI akan segera disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa. Mahasiswa yang akan lulus satu tahun mendatang dapat mempersiapkan seluruh dokumen dan bukti pendukung yang dapat dicantumkan dalam SKPI. Seluruh dokumen dan bukti pendukung dilakukan melalui usulan yang ditujukan kepada Dosen Pembimbing Akademik untuk diputuskan dalam rapat dewan dosen. Mahasiswa diberikan kebebaskan dalam mengajukan usulan terkait dengan prestasi akademik dan non akademik, pengalaman organisasi, partisipasi dalam pertemuan ilmiah dan karya akademik dan non akademik lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mekanisme penerbitan dan pengajuan usulan dokumen dan bukti pendukung penerbitan SKPI telah dipersiapkan. Prodi juga telah melakukan kajian pengembangan sistem IT dalam penerbitan SKPI. Tim yang telah melakukan kajian pengembangan sistem IT dan telah melakukan koordinasi dengan Badan Sistem Informasi (BSI) UII.  Menurut Dr. Paryana Puspaputra, selaku Kepala BSI UII dalam Workshop SKPI pada 16 April lalu menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan sistem dalam penerbitan SKPI. BSI akan membangun sistem untuk penerbitan SKPI dan aspek pengembangan content akan diserahkan sepenuhnya oleh Prodi.  
Pengembangan sistem IT akan terus dikaji dan koordinasi dengan BSI akan dilaksanakan secara intensif. Implentasi penerbitan diploma supplement ini akan terus dikawal dan dievaluasi dan akan menjadi pilot project bagi UII. Prodi akan mengembangkan sistem penerbitan SKPI sehingga dapat menjadi sistem yang terintegrasi. Tri Esti Purbaningtias, M.Si. sebagai ketua tim, pihaknya telah menyusun sistem penerbitan SKPI yang akan menjadi pedoman akademik untuk memperkuat kompetensi lulusan. Adanya SKPI dapat memberikan kemudahan pengguna (stakeholder) untuk mengetahui kompetensi lulusan tentang deskripsi capaian pembelajarannya.  Selain itu SKPI merupakan wujud komitmen program studi untuk menghasilkan tenaga professional di bidang analisis kimia yang memahami sistem manajemen mutu ISO 17025 yang mampu berkompetisi ditingkat nasional maupun internasional.
Laboratorium Analisis Kimia Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII telah siap menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) terverifikasi.  Tim penyusunan dokumen sistem manajemen mutu dan sumber daya TUK telah menyelesaikan seluruh kelengkapan persyaratan manajemen, persyaratan teknis dan persyaratan sumber daya TUK.  Menurut Kelapa TUK Laboratorium Analisis Kimia, Puji Kurniawati, M.Sc., seluruh persyaratan TUK telah tercukupi sesuai dengan Peraturan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Nomor 5 Tahun 2014.

TUK Laboratoratorium Analisis Kimia yang berkedudukan di Gedung Laboratorium Terpadu UII Lantai II ini telah menetapkan struktur organisasi dan menunjuk personel TUK. TUK juga telah menyelesaikan seluruh dokumen panduan mutu dan prosedur mutu sesuai dengan peraturan BNSP.  Kesiapan TUK juga telah dibuktikan dengan telah terselenggaranya uji coba pelaksanaan uji komptensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Sains Terapan FMIPA UII. Laboratorium Analisis Kimia pada Senin, 15 Juni 2015 juga telah melaksanakan audit internal. Kepala TUK juga menyatakan bahwa TUK juga telah siap menyambut tim verifikasi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Sains Terapan FMIPA UII yang akan diagendakan pada Senin, 29 Juni 2015 mendatang.
Saat ini, TUK telah mempersiapkan segala kebutuhan sarana dan prasarana pendukung uji kompetensi. Laboratorium telah memiliki sarana dan peralatan uji kompetensi yang memadai dan mencukupi seluruh materi uji kompentensi. Dalam rangka upaya peningkatan kepuasan dalam pelayanan uji kompetensi, TUK telah mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan jumlah peralatan dan instrumentasi pengujian.  Selain itu, kebutuhan peralatan dan instrumentasi pendukung untuk sertifikasi kompetensi paket dasar volumetric dan gravimetric serta spektrometri UV-Vis harus memenuhi standar kecukupan  pelaksanaan uji kompentensi.  TUK telah mendatangkan peralatan baru sesuai dengan kebutuhan materi uji kompetensi seperti neraca analitik, spektrofotometer UV-Vis, oven, dan furnace.
Peningkatan sarana dan prasarana ini mendapatkan dukungan dari Program Hibah PHK-PS Batch II.  Upaya ini merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh Prodi DIII Analis Kimia dalam meningkatkan pengakuan terhadap kompetensi alumni.  Persaingan alumni dalam menghadapi pasar bebas ASEAN akan semakin besar.  Adanya pengakuan kompetensi alumni ini akan semakin meningkatkan daya saing alumni dalam menghadapi kompetisi dengan calon tenaga kerja dari berbagai negara.

(Glagah Beach) Dalam upaya menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan yang selanjutnya akan digunakan dalam  pengambilan keputusan, maka dibutuhkan suatu ilmu dan skill tersendiri dalam pengambilan sampel. Sampel yang baik adalah sampel yang memiliki keterwakilan yang tinggi terhadap populasi yang akan dikaji. Hal ini penting karena sampel itulah yang nantinya akan diolah, dan parameternya akan digunakan untuk mengeneralisir karakterisitik populasi. Dalam kasus populasinya adalah obyek lingkungan seperti air, udara maupun tanah terdapat kendala tersendiri yang ditimbulkan dari sifat populasi yang cenderung heterogen dan dinamis.

Mengingat pentingnya proses pengambilan sampel bagi seorang analis kimia maka Prodi DIII Analis Kimia menyelenggarakan Workshop Teknik Sampling yang dilaksanakan selama dua hari, Sabtu-Minggu 13-14 Juni 2015 di kawasan Pantai Glagah Kulonprogo. Tak kurang dari 64 mahasiswa ikut serta dalam program yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti workshop ini, selain karena program ini include dalam kurikulum yang nantinya akan dikonversi ke matakuliah Praktikum Teknik Sampling, mahasiswa  juga merasakan suasana berbeda dari rutinitas praktikum yang biasanya mereka lakukan di laboratorium.
Dalam workshop yang dipandu oleh Reni Banowati Istiningrum, selaku Dosen Pengampu Praktikum Teknik Sampling, dan 3 orang asisten ini, mahasiswa dilatih untuk menggunakan peralatan sampling air, tanah dan udara seperti impinger, high volume air sampler, water sampler horizontal, dan bor tanah. Mahasiswa juga berlatih menggunakan alat ukur parameter lapangan seperti higrometer, DO meter, GPS, current meter, dan lain-lain. Selain itu, sebelum melaksanakan sampling, mahasiswa juga harus melakukan survei terlebih dahulu sebagai dasar dalam membuat desain sampling. Melalui workshop ini diharapkan akan memberikan bekal dan kompetensi tambahan bagi mahasiswa selain sebagai analis kimia di laboratorium. Karena pada kenyataannya, beberapa alumni Prodi DIII Analis Kimia juga diberi tugas sebagai petugas pengambil sampel.
(Glagah Beach) Dalam upaya menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan yang selanjutnya akan digunakan dalam  pengambilan keputusan, maka dibutuhkan suatu ilmu dan skill tersendiri dalam pengambilan sampel. Sampel yang baik adalah sampel yang memiliki keterwakilan yang tinggi terhadap populasi yang akan dikaji. Hal ini penting karena sampel itulah yang nantinya akan diolah, dan parameternya akan digunakan untuk mengeneralisir karakterisitik populasi. Dalam kasus populasinya adalah obyek lingkungan seperti air, udara maupun tanah terdapat kendala tersendiri yang ditimbulkan dari sifat populasi yang cenderung heterogen dan dinamis.
Mengingat pentingnya proses pengambilan sampel bagi seorang analis kimia maka Prodi DIII Analis Kimia menyelenggarakan Workshop Teknik Sampling yang dilaksanakan selama dua hari, Sabtu-Minggu 13-14 Juni 2015 di kawasan Pantai Glagah Kulonprogo. Tak kurang dari 64 mahasiswa ikut serta dalam program yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti workshop ini, selain karena program ini include dalam kurikulum yang nantinya akan dikonversi ke matakuliah Praktikum Teknik Sampling, mahasiswa  juga merasakan suasana berbeda dari rutinitas praktikum yang biasanya mereka lakukan di laboratorium.
Dalam workshop yang dipandu oleh Reni Banowati Istiningrum, selaku Dosen Pengampu Praktikum Teknik Sampling, dan 3 orang asisten ini, mahasiswa dilatih untuk menggunakan peralatan sampling air, tanah dan udara seperti impinger, high volume air sampler, water sampler horizontal, dan bor tanah. Mahasiswa juga berlatih menggunakan alat ukur parameter lapangan seperti higrometer, DO meter, GPS, current meter, dan lain-lain. Selain itu, sebelum melaksanakan sampling, mahasiswa juga harus melakukan survei terlebih dahulu sebagai dasar dalam membuat desain sampling. Melalui workshop ini diharapkan akan memberikan bekal dan kompetensi tambahan bagi mahasiswa selain sebagai analis kimia di laboratorium. Karena pada kenyataannya, beberapa alumni Prodi DIII Analis Kimia juga diberi tugas sebagai petugas pengambil sampel.
 Penelitian merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian oleh Prodi DIII Analis Kimia untuk selalu dikembangkan terus menerus. Penelitian dilakukan dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, setiap penelitian harus disampaikan dalam bentuk publikasi. Publikasi tersebut merupakan suatu penulisan ilmiah yang memiliki syarat dan standar yang berbeda dengan penulisan-penulisan lainnya. Salah satu syarat dan standar yang berbeda itu adalah dalam hal pengolahan data dan grafik.
Untuk membantu kelancaran dosen dalam penulisan karya ilmiah, Prodi DIII Analis Kimia pada tanggal 16 Juni 2015 berinisiatif untuk mengadakan pelatihan Origin yang diisi oleh Tri Esti Purbaningtias, M.Si. Origin adalah aplikasi perangkat lunak untuk analisis data dan grafik berkualitas publikasi yang sesuai dengan kebutuhan para peneliti. Aplikasi ini mudah digunakan untuk pemula maupun seorang ahli. Dengan lebih dari 100 jenis grafik, Origin memudahkan untuk membuat dan menyesuaikan grafik kualitas publikasi sesuai dengan keinginan peneliti. Origin berisi Tools yang dapat digunakan untuk analisis data, seperti analisis puncak, curve fitting, dan uji statistika.
Pelatihan ini membahas tentang bagaimana mengolah data XRD dan FTIR. Salah satu materi yang diberikan adalah mengenai menggabungkan beberapa data XRD dan FTIR dalam satu grafik sehingga memberikan warna yang berbeda dalam penulisan karya ilmiah. Fitur-fitur pembuatan grafik lainnya yang dibahas adalah baseline dan smoothing. Selain itu juga diberikan teknik analisis data dalam hal mencari luas puncak menggunakan persamaan Gaussian dan Lorentzian. Hal yang tidak kalah menariknya adalah bahwa Origin dapat mempresentasikan ulang data yang berupa gambar menjadi sebuah grafik yang dapat diolah lebih lanjut menggunakan fitur-fitur yang ada.
 Prodi Analis Kimia se-Indonesia pada Jum’at, 29 Mei 2015 membahas learning outcome untuk program studi DIII Analisis Kimia dalam  Workshop Learning Outcome bertempat di Ruang Sidang FMIPA UII.  Workshop yang dihadiri oleh delegasi dari Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII, AKA Caraka Nusantara, Politeknik Bandung, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Setya Budi menghadirkan Ketua Umum Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Dr. Muhammad A. Martoprawiro.
Workshop ini merupakan kelanjutan dari pembahasan learning outcome pada pertemuan Prodi DIII Analis Kimia se-Indonesia pada April 2015 di Denpasar Bali.  Tahun 2014 lalu, Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII menginiasi pembentukan forum Prodi Analis Kimia se-Indonesia dilanjutkan dengan pertemuan di Universitas Negeri Ganesha Denpasar Bali.  Perkembangan kurikulum berbasis kompetensi untuk program pendidikan vokasional selain mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) memiliki keselarasan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Pengembangan kurikulum DIII Analis Kimia dengan standar yang mengacu pada KKNI dan rujukan lainnya yang dikembangkan oleh himpunan profesi internasional atau akreditasi internasional.  
Pertemuan ini menjadi forum penting bagi Prodi DIII Analis Kimia se-Indonesia yang tengah berupaya untuk melakukan pengembangan kurikulum pendidikan vokasional.  Rumusan learning outcome untuk Prodi DIII Analis Kimia tengah dikaji di forum HKI dan baru akan dibahas pada 1 Oktober 2015 mendatang.  Rumusan learning outcome inilah yang akan digunakan sebagai acuan dalam merumuskan learning outcome bagi Prodi DIII Analis Kimia se-Indonesia.  Rancangan learning outcome yang telah dipaparkan oleh ketua HKI dapat menjadi acuan dalam merumuskan learning outcome Prodi DIII Analis Kimia dalam pengembangan kurikulum baru.  Tantangan baru Prodi DIII Analis Kimia dengan standar kurikulum pendidikan dengan proporsi matakuliah praktikum minimal 52 SKS harus dikaji secara mendalam sehingga standar capaian pembelajaran dapat terealisasi.
Standar kemampuan kerja dalam draft learning outcome disebutkan bahwa untuk jenjang pendidikan DIII Analis Kimia setidaknya memiliki kemampuan dalam memilih dan menerapkan metode analisis kimia yang telah dikenal dan yang sesuai untuk materi yang dianalisis, mampu mengoperasikan instrument kimia yang sederhana maupun kompleks sesuai dengan standar dan mampu menyampaikan informasi atau analisis dengan parameter baku dari instrument tersebut dengan benar, serta mampu melakukan analisis materi tertentu dengan metode analisis kimia berdasarkan prosedur operasi standar tertentu.  Standar lulusan DIII Analis Kimia akan jelas berbeda dengan standar lulusan SMK Analis Kimia.  Kemampuan kerja yang dimiliki inilah yang membedakan lulusan SMK Analis Kimia dengan lulusan DIII Analis Kimia.
Lulusan DIII Analis Kimia juga memiliki standar kemampuan dalam penguasaan pengetahuan dengan lulusan S1 Kimia.  Penguasaan pengetahuan dalam draft learning outcome disebutkan bahwa lulusan DIII Analis Kimia mampu menguasai pengetahuan tentang struktur, sifat kimia dan sifat fisik bahan kimia yang tersusun oleh molekul-molekul sederhana, menguasai konsep kimia analisis dan pengetahuan ttg metode kimia analisis yang dapat diterapkan di lapangan kerja serta menguasai pengetahuan tentang fungsi, cara mengoperasikan instrument kimia yang umum maaupun khusus untuk analisis kimia dan cara pemeliharaan instrument tersebut.
Himpunan Kimia Indonesia akan mengkaji dan melakukan diskusi intensif dalam memantapkan learning outcome Prodi DIII Analis Kimia se-Indonesia.  Ketua HKI menuturkan bahwa pihaknya akan membuka forum melalui mailing list Prodi DIII Analis Kimia se-Indonesia untuk memberikan sumbang saran dalam rumusan learning outcome menjelang pertemuan HKI pada 1 Oktober mendatang.  

 Ketua Program Studi DIII Analis Kimia Universitas Islam Indonesia, Thorikul Huda, M.Sc. pada Jum’at, 29 Mei 2015 dilantik sebagai Ketua Himpunan Profesi Analis Kimia Indonesia (HIMPAKI) untuk wilayah DIY dan Jawa Tengah.  Acara pelantikan ini dihadiri oleh pengurus dan anggota HIMPAKI pada acara Seminar Nasional dalam rangka MILAD UII ke-72.  HIMPAKI merupakan asosiasi profesi analis kimia yang baru dibentuk di wilayah DIY dan Jawa Tengah pada awal tahun 2015.  Universitas Islam Indonesia diberi mandat oleh DPP HIMPAKI untuk membentuk kepengurusan pada tingkat wilayah dengan melibatkan para professional dan praktisi di bidang analisis kimia di DIY-Jawa Tengah.

Seluruh pengurus DPW DIY-Jawa Tengah secara resmi dilantik oleh Ketua DPP HIMPAKI, Deddy Wiriadi Atmadja.  Prosesi pelantikan dilangsungkan di Auditorium FMIPA UII diawali dengan pembacaan SK Penetapan DPW HIMPAKI DIY dan Jawa Tengah oleh Sekjen DPP HIMPAKI Sri Sugihati Slamet.  Acara pelantikan dilanjutkan dengan pembacaan janji pengurus yang dipimpin oleh Ketua DPW HIMPAKI DIY. Thorikul Huda, M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan bahwa para professional dan praktiksi analisis kimia di Indonesia memiliki peranan yang besar dalam kemajuan bangsa.  Isu yang kini tengah berkembang di masyarakat terkait dengan peredaran beras plastik.  Isu ini cukup meresahkan masyarakat dan analis kimia memiliki peran dalam melakukan investigasi melalui uji laboratorium.
Acara Pelantikan yang dibuka oleh Dekan FMIPA UII, Drs. Allwar MSc., Ph.D. dan dihadiri oleh pengurus yang berasal dari berbagai institusi dan perusahaan.  Thorikul Huda, M.Sc. menuturkan bahwa pembentukan DPW DIY dan Jawa Tengah melibatkan kalangan professional dan praktisi yang berasal dari Universitas Islam Indonesia, Universitas Setya Budi Jawa Tengah, tenaga analis kimia dari UGM, UMY, SMK N 2 Depok, SMK Panjatan, dan SMTI Yogyakarta.  Selain itu, pengurus HIMPAKI DIY dan Jawa Tengah ini juga melibatkan analis kimia yang berasal dari Balai Konservasi Candi Borobudur Jawa Tengah, BLH DIY dan BLH Jawa Tengah,Balai GAKI Jawa Tengah, Kesdam V Diponegoro Jawa Tengah, IPAL Yogkakarta, PT Sido Muncul, PT Berlico Mulia Farma, serta PT Pertamina.
Deddy Wiriadi Atmadja selaku Ketua DPP HIMPAKI dalam acara pelantikan memaparkan bahwa asosiasi profesi ini memiliki peran dalam melindungi masyarakat dari mereka yang kinerjanya merugikan kemaslahatan masyarakat. Himpunan ini didirikan untuk menamankan kesadaran akan pentingnya profesi analis kimia sekaligus mengembangkan, menerapkan dan menyebarluaskan konsep dan teknik metoda analisis.  Selain itu, HIMPAKI akan menjadi himpunan asossiasi profesi yang akan memberikan peran nyata dalam meningkatkan kompetensi tenaga analis kimia yang professional sehingga mampu berkontribusi dalam mensukseskan program pemerintah.
HIMPAKI akan menjadi organisasi yang dapat mewujudkan profesi analis kimia Indonesia yang professional dan kompeten yang mampu berkompetisi di dunia Indonesia.  HIMPAKI diharapkan mampu menghasilkan tenaga analis kimia yang professional dan kompeten di bidangnya serta taat terhadap kode etik profesi analis kimia.  Oleh karena itu,  kini HIMPAKI tengah merintis Lembaga Sertifikasi Profesi yang akan menjadi kepanjangan tangan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melakukan sertifikasi profesi kepada tenaga analis kimia.  Keberadaan DPW HIMPAKI di bawah kepemimpinan Thorikul Huda, M.Sc. ini memiliki peran dalam menghimpun tenaga professional analis kimia di wilayah DIY dan Jawa Tengah. 

 Program Studi DIII Analis Kimia Universitas Islam Indonesia telah melakukan langkah menuju sistem sertifikasi kompetensi lulusan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi.  Tahun 2015, UII mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Sains Terapan yang berada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.  LSP Sains Terapan FMIPA UII telah siap untuk menuju lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memberikan sertifikasi kompetensi bagi calon lulusan. UII.

Sistem sertifikasi dikembangkan sebagai standardisasi kompetensi yang mengacu pada sistem manajemen mutu ISO/IEC 17024 : 2012 tentang Conformity assessment – general requirements for bodies operating certification of pearson.  Sistem sertifikasi ini digunakan untuk memberikan pengakuan kompetensi pada bidang keahlian tertentu.  Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan regulasi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan PP Nomor 31 Tahun 2004 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional. Pengembangan sistem sertifikasi kompetensi ini menjadi sebuah upaya dalam mewujudkan pengakuan kompetensi bagi tenaga kerja Indonesia yang dapat bersaing di pasar global.

Perkembangang era globalisasi yang telah mengantarkan Indonesia dalam memasuki pasar bebas ASEAN.  Tantangan baru bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusan yang unggul dan kompetitif di pasar global.  Sistem regulasi barang dan jasa yang semakin terbuka membuka peluang bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki standardisasi kompetensi.  Persaingan tenaga ahli dan tenaga professional di Negara ASEAN harus diimbangi dengan adanya pengakuan kompetensi yang diakui secara internasional.  Sertifikasi kompetensi yang dari LSP dapat menjadi bentuk pengakuan kompetensi yang akan mengacu pada standar kompetensi.

Ir. Surono, M.Phil. Anggota BNSP dalam Seminar Nasional yang digelar di Prodi DIII Analis Kimia pada Jum’at, 29 Mei 2015 menegaskan bahwa Indonesia tengah mengembangkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk bidang laboratori.  Pihak BNSP telah melakukan pra-konvensi dengan mengadopsi standar dari Australia.  Hasil pra-konvensi yang telah dirumuskan untuk kualifikasi sertifikat II sampai sertifikat V. Standar kompetensi inilah yang nantinya akan digunakan dalam pengembangan skema sertifikasi di bidang laboratorium dalam sertifikasi tenaga ahli analis kimia. Skema sertifikasi yang berkembang di Indonesia telah mengacu pada SKKNI yang tidak kalah dengan standar yang berlaku di negara-negara maju. 

Sistem sertifikasi yang dikembangkan oleh LSP Sains Terapan FMIPA UII telah mengacu pada SKKNI pada bidang laboratori dan ke depan LSP akan dikembangkan pada berbagai skema sertifikasi yang dibutuhkan oleh pihak pengguna.  Thorikul Huda, M.Sc. selaku Direktur LSP Sains Terapan sekaligus Ketua Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII menuturkan bahwa LSP Sains Terapan telah melakukan uji coba sertifikasi untuk paket dasar dan spektrometri UV-Vis dan pada akhir tahun 2015 telah siap untuk melakukan sertifikasi kompetensi untuk seluruh mahasiswa Fakultas MIPA UII.  LSP kini memiliki dua asesor kompetensi dan saat ini tengah mempersiapkan dua asesor kompetensi baru dan sumber daya pendukung yang memadai. 

Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII telah menyiapkan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Laboratorium Analisis Kimia yang dilengkapi dengan sarana dan instrumentasi laboratorium yang memadai.  Puji Kurniawati, M.Sc. selaku Kepala TUK menyatakan bahwa pihkanya siap memberikan layanan sertifikasi kompetensi bagi LSP Sains Terapan dan LSP pihak luar.  Tidak diragukan lagi, UII yang telah memiliki laboratorium terakreditasi ISO/IEC 17025 dapat memberikan jasa pelayanan pengujian dan sertifikasi personel secara professional dan terpercaya.

Adanya sistem sertifikasi ini menjadi suatu langkah dalam mewujudkan tujuan strategis UII dalam meningkatkan keunggulan kompetitif dan adaptif bagi lulusan.  Mahasiswa yang telah lulus juga akan mendapatkan dua sertifikat kompetensi keahlian yang telah mendapatkan pengakuan secara internasional, disamping mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).  Penguatan sistem sertifikasi di perguruan tinggi ini akan terus dikembangkan melalui kurikulum pendidikan berbasis kompetensi.  Terobosan baru yang telah diterapkan pada Prodi DIII Analis Kimia UII yaitu melalui pengembangan kurikulum baru dengan mengacu pada standar kompetensi baik standar nasional maupun standar internasional dengan melibatkan para pengguna lulusan.  Selain telah mengacu standar, Prodi juga telah menetapkan satu keunggulan pada kompetensi lulusan yang mampu menguasai sistem manajemen mutu laboratorium ISO/IEC 17025.Menurut Ir. Surono, M.Phil. dalam pemaparannnya juga menyampaikan bahwa pengembangan sistem sertifikasi kompetensi pada pendidikan sekolah vokasional berperan dalam memastikan adanya implementasi pendidikan berbasis kompetensi.  Adanya sistem sertifikasi yang dikeluarkan oleh sekolah vokasi dapat menjamin bahwa lulusan yang dihasilkan 100% kompeten.  Lulusan pada jenjang DIII Analis Kimia maka secara otomatis menjadi tenaga ahli analisis kimia yang memegang sertifikat V pada skema sertifikasi di bidang laboratori.

Sertifikasi kompetensi ini akan berguna bagi pengguna untuk mendapatkan calon tenaga kerja professional yang kompeten tanpa harus memberikan pendidikan dan pelatihan. Pihak pengguna akan mendapatkan jaminan terhadap kompetensi calon tenaga kerja yang kompeten.  Adanya sertifikasi kompetensi personel laboratorium juga menjadi salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam standar laboratorium pengujian dan kalibrasi ISO/IEC 17025. Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII, sejak tahun 2014 telah mengimplementasikan sistem pendidikan berbasis kompetensi melalui perumusan kurikulum yang mengacu pada SKKNI pada bidang laborator dengan menetapkan learning outcome sesuai dengan level KKNI.  Pengembangan kurikulum akan terus dikembangkan melalui strategi dan materi pembelajaran yang memiliki link and match dengan asosiasi profesi dan pihak pengguna.  Pencapaian pembelajaran selama proses pembelajaran pada jenjang diploma sangat jelas.  Mahasiswa dapat dipastikan kompeten dalam bidang laboratory melalui asesmen dan sertifikasi yang dilakukan oleh LSP Sains Terapan.  Inilah yang akan menjadi keunggulan lulusan Prodi DIII Analis Kimia FMIPA UII.  Lulusan yang dihasilkan dapat dipastikan kompeten dan memiliki keunggulan dalam nilai-nilai keislaman sehingga akan menjadi tenaga professional yang kompetitif di pasar global.

 Suatu ilmu harus selalu digali, terus dan terus. Sebagai acuan, dosen dituntut untuk menghasilkan suatu karya tulis ilmiah. Salah satu tugas dosen adalah membuat suatu karya tulis ilmiah yang sesuai dengan bidangnya. Karya tulis ini sangat berpengaruh pada eksistensi dosen dalam mengembangkan bidang ilmunya. Dalam perkembangannya, setiap penulisan ilmiah memiliki syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi dan standarnya berbeda antara satu dengan lainnya. Hal tersebut terkadang menyulitkan dosen karena harus menulis ulang karyanya dari awal dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.

Untuk membantu kelancaran dosen dalam penulisan karya ilmiah, Prodi DIII Analis Kimia pada tanggal 5 Mei 2015 berinisiatif untuk mengadakan pelatihan internal dengan mengoptimalkan kerja program komputer. Secara umum, hanya sekitar 20% fitur-fitur MS Word yang biasanya digunakan dalam proses pembuatan dokumen maupun penulisan. Pelatihan yang rutin dilakukan setiap bulan ini, kali ini, mengusung tema mengoptimalkan fitur MS Word dalam proses pengetikan. Pelatihan bulan Mei ini diisi oleh Ibu Puji Kurniawati, M.Sc dan diikuti oleh semua jajaran dosen DIII Analis Kimia.

Walaupun versi program MS Word yang dipergunakan oleh dosen-dosen berbeda, hal tersebut tidak menghalangi pelatihan tersebut karena fitur-fitur yang akan diperkerkenalkan sebenarnya sudah ada pada MS Word 2007. Pelatihan diawali dengan mengenalkan fitur-fitur yang ada, dari fitur dalam FILE sampai VIEW. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan bagaimana memanfaatkan fitur-fitur dalam MS Word untuk membuat daftar isi, daftar gambar, tabel, lampiran, dan daftar pustaka secara otomatis. Bagian tersebut dilakukan dengan memanfaatkan fitur Styles pada HOME dan REFERENCES. Pengaturan halaman, Header dan Footer juga dibahas dalam pelatihan ini. Yang tidak kalah penting, pelatihan ini juga membahas proses review terhadap suatu tulisan dengan memanfaatkan fitur-fitur dalam REVIEW. Proses review dengan MS Word dapat mendukung program Fakultas MIPA UII dalam hal paperless untuk menciptakan green world.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Teknologi membantu kita dalam meringankan tugas. Manfaatkan secara optimal dan selalu berkarya untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas.

 Praktik Kerja Mandiri adalah mata kuliah dengan bobot dua sks yang wajib diambil oleh mahasiswa DIII Analis Kimia UII semester V. Mata kuliah ini mewajibkan mahasiswa untuk melakukan pengujian kimia secara mandiri. Dalam hal ini, mandiri diartikan sebagai keharusan mahasiswa untuk mencari sendiri ide pengujian, metode kerja, standar kerja, menyiapkan bahan dan melakukan kerja laboratorium. Kelemahan dari mata kuliah ini, biasanya, adalah tidak adanya ide, bahkan gambaran ide, bagi mahasiswa yang harus menempuhnya. Oleh karena itu, Prodi pada tanggal 25 April 2015 berinisiatif untuk melaksanakan seminar hasil Praktik Kerja Mandiri. Harapannya, seminar ini dapat memberikan gambaran bagi mahasiswa yang akan menempuh mata kuliah tersebut.

Seminar ini diawali dengan pemaparan tata cara pengambilan mata kuliah, kerja laboratorium dan ujian terbuka oleh koordinator dosen pengampu Praktik Kerja Mandiri, Ibu Puji Kurniawati, M.Sc. “Mata kuliah ini berbobot 2 sks, akan tetapi serasa 6 sks. Jadi, mahasiswa harus punya persiapan lebih dan tenaga lebih untuk menghadapinya.” tutur Ibu Puji. “ Tidak ada yang sulit, kalian hanya perlu berfikir dan bekerja ekstra agar hasilnya maksimum. Pekerjaan laboratorium pada mata kuliah ini akan membantu kalian dalam menghadapi pekerjaan nyata yang akan kalian hadapi saat melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan)”. Mahasiswa yang akan menempuh mata kuliah ini mendapatkan informasi tentang persyaratan key in mata kuliah sampai persyaratan nilai keluar.

Seminar ini juga diisi oleh perwakilan mahasiswa angkatan 2012 yang telah melewati Praktik Kerja Mandiri. Mereka adalah Achmad Faisal Fatah, Linda Puspitasari dan Aryanti Dewi Safitri. Sebagai kakak angkatan, mereka mempresentasikan hasil praktik laboratorium dan berbagi suka duka saat mengambil mata kuliah ini. Bagian diskusi mengalir dengan lancar dan audience antusias untuk menelisik lebih lanjut pengalaman kakak angkatan mereka. Seminar ini setidaknya dapat menggagas ide bagi mahasiswa yang akan menempuh mata kuliah Praktik Kerja Mandiri untuk bersiap menghadapinya. Secara umum, mata kuliah ini akan semakin mengasah keterampilan mereka dalam ruang lingkup kerja laboratorium dan berfikir dalam mengambil keputusan mandiri atau menemukan solusi.