{mosimage}Sehubungan dengan pertambahan penduduk yang semakin meningkat, maka permintaan akan pangan, sandang dan papan juga semakin meningkat. Hal ini mendorong peningkatan kegiatan pembangunan di berbagai sektor yang mengakibatkan pemanfaatan ekosistim secara tidak rasional dan tidak terkendali. Kegiatan pembangunan tersebut mengakibatkan penurunan kualitas bahkan perusakan ekosistim itu sendiri serta berdampak lanjut terhadap gangguan ekosistim lain yang berada di sekitarnya, sehingga mengakibatkan gangguan kehidupan organisme yang hidup di dalamnya maupun terhadap organisme pemanfaatnya termasuk manusia.
Proses pencemaran perairan pada umumnya disebabkan oleh berbagai kegiatan yang merupakan sumber bahan pencemar perairan antara lain pemukiman, industri, transportasi, dan pertanian. Kegiatan-kegiatan tersebut potensil menghasilkan bahan pencemar yang merusak sistim kehidupan di dalam ekosistim pantai. Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, dengan demikian perairan yang sudah tidak lagi berfungsi secara normal dapat dikatergorikan sebagai perairan tercemar. Selain itu definisi dari pencemaran air disebabkan oleh masuknya zat-zat asing ke dalam lingkungan, sebagai akibat dari tindakan manusia, yang merubah sifat-sifat fisik, kimia, dan biologis lingkungannya. Bahan-bahan pencemar tersebut digolongkan ke dalam tiga tipe yaitu: (1) patogenik (menyebabkan penyakit pada manusia), (2) estetik (menyebabkan perubahan lingkungan yang tidak nyaman berdasarkan panca indera) dan (3) ekomorpik (bahan cemar yang menyebabkan perubahan sifat sifat fisika lingkungan).
Bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan perairan dapat berasal dari material organik maupun anorganik. Parameter pencemaran biasanya saling terkait antara satu parameter dengan parameter lainnya. Dalam pembahasan ini akan disampaikan hubungan antara parameter Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid) dengan kekeruhan (Turbidity), dan Kelarutan oksigen (Dissolved Oyigen)
Total Suspended Solid atau Total Padatan Tersuspensi
TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas millipore berporipori 0,45 μm. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produser.
Turbidity atau Kekeruhan
Turbiditas atau kekeruhan digunkan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel organic maupun anorganik yang berasal dari DAS (Daerah Aliran Sungai) dan resuspensi sediment di dasar danau.
Dissolved Oxygen atau Kelarutan oksigen
Sumber oksigen dalam perairan dapat diperoleh dari hasil proses fotosintesis phytoplankton atau tumbuhan hijau dan proses difusi dari udara, serta hasil proses kimiawi dari reaksi-reaksi oksidasi. Keberadaan oksigen di perairan biasanya diukur dalam jumlah oksigen terlarut (dissolved oxygen) yaitu jumlah miligram gas oksigen yang terlarut dalam satu liter air.
Pada ekosistem perairan, keberadaan oksigen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain distribusi temperatur, keberadaan produser autotrop yang mampu melakukan fotosintesis, serta proses difusi oksigen dari udara. Di perairan umumnya oksigen memiliki distribusi yang tidak merata secara vertikal . Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen yang dipengaruhi oleh temperatur perairan. Kelarutan oksigen bertambah seiring dengan penurunan temperatur perairan, walaupun hubungan ini tidak selamanya berjalan secara linier.
Tabel 1. Hubungan antara temperatur dan kelarutan oksigen di perairan.
| suhu |
Kelarutan oksigen (mg/L) |
| 0 |
14,6 |
| 4 |
13,1 |
| 8 |
11,9 |
| 12 |
10,8 |
| 16 |
10,0 |
| 20 |
9,2 |
| 24 |
8,5 |
| 30 |
7,9 |
Sumber :Chanlett (1979)
Hubungan antara Total Suspended Solid dengan Turbidity dan Dissolved Oxigen
Kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi karena kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut. Zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat, misalnya pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang dalam air. Bahan-bahan organik yang merupakan zat tersuspensi terdiri dari berbagai jenis senyawa seperti selulosa, lemak, protein yang melayang-layang dalam air atau dapat juga berupa mikroorganisme seperti bakteri, algae, dan sebagainya. Bahan-bahan organik ini selain berasal dari sumber-sumber alamiah juga berasal dari buangan kegiatan manusia seperti kegiatan industri, pertanian, pertambangan atau kegiatan rumah tangga. Kekeruhan memang disebabkan karena adanya zat tersuspensi dalam air, namun karena zat-zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat yang bentuk dan berat jenisnya berbeda-beda maka kekeruhan tidak selalu sebanding dengan kadar zat tersuspensi.
Tontowi (2007) telah membuktikan bahwa peningkatan total padatan terlarut akan meningkatkan tingkat kekeruhan di Waduk Jati Luhur. Kenaikan kadar zat tersuspensi dari 11 mg/L menjadi 50,5 mg/L atau mengalami kenaikan sebesar 390 %, sedangkan kekeruhan mengalami kenaikan dari 6,6 NTU menjadi 27,6 NTU atau mengalami kenaikan sebesar 318 %
Dampak kekeruhan pada air minum terutama adalah dapat menimbulkan estetika yang kurang baik. Orang menilai air minum pertama dari kekeruhannya. Air yang keruh ditinjau dari estetikanya tidak layak untuk diminum. Selain dari segi estetika, air yang keruh yang mengandung zat-zat tersuspensi dapat menyebabkan mikroorganisme patogen hidup dan berkembang dengan baik, bahkan adanya bahan-bahan tersuspensi tersebut dapat menyebabkan mikroorganisme lebih tahan terhadap proses desinfeksi.
Adanya kekeruhan akan manghambat proses masuknya sinar matahari ke dalam perairan. Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan proses fotosintesis tanaman (fitoplankton) menjadi terhambat. Padahal seperti diketahui bersama, fotosintesis oleh tanaman akan menghasilkan gas O2 yang banyak dibutuhkan oleh organisme di lingkungan perairan.
Jika oksigen hanya sedikit dan maka bakteri aerobic akan cepat mati karena suplay oksigennya sedikit dan bakteri anaerobik mulai tumbuh. Bakteri anaerobik akan mendekompisisi dan menggunakan oksigen yang disimpan dalam moleku lmolekulyang sedang dihancurkan. Hasil dari kegiatan bakteri anaerobikdapat membentuk Hidrogen Sulfida (H2S), gas yang berbau busuk dan berbahaya, serta beberapa produk lainnya
Kesimpulan
Peningkatan konsentrasi padatan terlarut berkorelasi secara positif dengan nilai kekeruhan dan berkorelasi negative dengan kelarutan oksigen
DAFTAR PUSTAKA
Chanlett, E.T., 1979. “Environmental Protection”. Mc Graw-Hill Book Company. New York.585 p.
Sunarto, 2003, “Peranan Dekomposisi Dalam Proses Produksi Pada Ekosistem Laut”
Pengantar Falsafah Sains (Pps702)Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor
HUBUNGAN ANTARA TOTAL SUSPENDED SOLID DENGAN TURBIDITY DAN DISSOLVED OXYGEN
TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas millipore berporipori 0,45 μm. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produser.
Turbidity atau Kekeruhan
Turbiditas atau kekeruhan digunkan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel organic maupun anorganik yang berasal dari DAS (Daerah Aliran Sungai) dan resuspensi sediment di dasar danau.
Dissolved Oxygen atau Kelarutan oksigen
Sumber oksigen dalam perairan dapat diperoleh dari hasil proses fotosintesis phytoplankton atau tumbuhan hijau dan proses difusi dari udara, serta hasil proses kimiawi dari reaksi-reaksi oksidasi. Keberadaan oksigen di perairan biasanya diukur dalam jumlah oksigen terlarut (dissolved oxygen) yaitu jumlah miligram gas oksigen yang terlarut dalam satu liter air.
Pada ekosistem perairan, keberadaan oksigen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain distribusi temperatur, keberadaan produser autotrop yang mampu melakukan fotosintesis, serta proses difusi oksigen dari udara. Di perairan umumnya oksigen memiliki distribusi yang tidak merata secara vertikal . Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen yang dipengaruhi oleh temperatur perairan. Kelarutan oksigen bertambah seiring dengan penurunan temperatur perairan, walaupun hubungan ini tidak selamanya berjalan secara linier.
Kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi karena kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut. Zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat, misalnya pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang dalam air. Bahan-bahan organik yang merupakan zat tersuspensi terdiri dari berbagai jenis senyawa seperti selulosa, lemak, protein yang melayang-layang dalam air atau dapat juga berupa mikroorganisme seperti bakteri, algae, dan sebagainya. Bahan-bahan organik ini selain berasal dari sumber-sumber alamiah juga berasal dari buangan kegiatan manusia seperti kegiatan industri, pertanian, pertambangan atau kegiatan rumah tangga. Kekeruhan memang disebabkan karena adanya zat tersuspensi dalam air, namun karena zat-zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat yang bentuk dan berat jenisnya berbeda-beda maka kekeruhan tidak selalu sebanding dengan kadar zat tersuspensi.
Tontowi (2007) telah membuktikan bahwa peningkatan total padatan terlarut akan meningkatkan tingkat kekeruhan di Waduk Jati Luhur. Kenaikan kadar zat tersuspensi dari 11 mg/L menjadi 50,5 mg/L atau mengalami kenaikan sebesar 390 %, sedangkan kekeruhan mengalami kenaikan dari 6,6 NTU menjadi 27,6 NTU atau mengalami kenaikan sebesar 318 %
Dampak kekeruhan pada air minum terutama adalah dapat menimbulkan estetika yang kurang baik. Orang menilai air minum pertama dari kekeruhannya. Air yang keruh ditinjau dari estetikanya tidak layak untuk diminum. Selain dari segi estetika, air yang keruh yang mengandung zat-zat tersuspensi dapat menyebabkan mikroorganisme patogen hidup dan berkembang dengan baik, bahkan adanya bahan-bahan tersuspensi tersebut dapat menyebabkan mikroorganisme lebih tahan terhadap proses desinfeksi.
Adanya kekeruhan akan manghambat proses masuknya sinar matahari ke dalam perairan. Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan proses fotosintesis tanaman (fitoplankton) menjadi terhambat. Padahal seperti diketahui bersama, fotosintesis oleh tanaman akan menghasilkan gas O2 yang banyak dibutuhkan oleh organisme di lingkungan perairan.
Jika oksigen hanya sedikit dan maka bakteri aerobic akan cepat mati karena suplay oksigennya sedikit dan bakteri anaerobik mulai tumbuh. Bakteri anaerobik akan mendekompisisi dan menggunakan oksigen yang disimpan dalam moleku lmolekulyang sedang dihancurkan. Hasil dari kegiatan bakteri anaerobikdapat membentuk Hidrogen Sulfida (H2S), gas yang berbau busuk dan berbahaya, serta beberapa produk lainnya
Kesimpulan
Peningkatan konsentrasi padatan terlarut berkorelasi secara positif dengan nilai kekeruhan dan berkorelasi negative dengan kelarutan oksigen
Sunarto, 2003, “Peranan Dekomposisi Dalam Proses Produksi Pada Ekosistem Laut”
Pengantar Falsafah Sains (Pps702)Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor
Ramah Tamah FMIPA UII
Foto bersama dengan tamu dari Belanda
Jum’at 11 Juni 2010, Fakultas MIPA –UII menyelenggarakan acara ramah tamah bertempat di basement gedung Laboratorium Terpadu. Tujuan diadakannya kegiatannya tersebut adalah untuk memperat tali silaturahmi antar civitas akademika yang ada di FMIPA UII. Hadir pada acara ramah tamah adalah Yandi Syukri, M.Si., Apt selaku Dekan FMIPA dan pejabat struktural lain yang ada di FMIPA seperti Ketua Program Studi Statistika, Ilmu Kimia dan Farmasi. Selain itu juga turut hadir Ketua Program D III Analis Kimia dan Ketua Program Profesi Apoteker.
KEPEMIMPINAN BARU DI PROGRAM D III ANALIS KIMIA
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Pengemban Amanah di Program D III Analis Kimia harus segera mungkin menyusun konsep rencana strategis (renstra) yang diterjemahkan dari paparan action plan oleh Ketua Program terpilih. Renstra tersebut kemudian diturunkan menjadi rencana operasional (renop) dalam bentuk program kerja selama 4 tahun mendatang. Rencana aksi yang disampaikan oleh Ketua Program terpilih diantaranya adalah:
1. Penguatan Tata Kelola Akademik
2. Penguatan Tata Kelola Sumberdaya dan Kelembagaan
3. Penguatan Tata Kelola Infrastruktur
4. Penguatan Tata Kelola Kemahasiswaan dan Alumni
Rencana Aksi Program 1 terkait dengan penguatan tata kelola akademik meliputi :
1. Pengembangan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru
2. Peningkatan Status Akreditasi Program D III Analis Kimia
Rencana Aksi Program 2 terkait dengan penguatan tata kelola sumberdaya dan kelembagaan meliputi :
1. Peningkatan Mutu Sumberdaya Staf Pengajar (Dosen)
2. Peningkatan Kualitas Penelitian dan Mutu Publikasi Ilmiah
3. Peningkatan Kualitas Kerjasama
4. Peningkatan Mutu pelayanan
5. Keterlibatan dalam Sistem Penjaminan Mutu UII
6. Peningkatan Disiplin dan Kenyamanan Kerja
Rencana Aksi Program 3 terkait dengan penguatan tata kelola infrastruktur meliputi :
1. Penataan Sarana dan Prasarana
2. PemanfaatanTeknologi Informasi (IT) untuk pelayanan akademik (SIMAK)
3. Peningkatan sarana dan prasarana penunjang
Rencana Aksi Program 4 terkait dengan penguatan tata kelola kemahasiswaan dan alumni meliputi:
1. Pengembangan Mutu Kegiatan Akademik Mahasiswa
2. Pengembangan Mutu Kegiatan Non-Akademik Mahasiswa
3. Pengembangan Kualitas dan Peran Alumni
Pabrik nano dapat mengawasi adanya komunikasi bakteri
Kata Kunci: bakteri, komunikasi, komunikasi bakteri, sinyal autoinducer
Bakteri berkomunikasi pada suatu proses yang disebut quorum sensing, dimana mereka mengeluarkan molekul yang memberi sinyal kecil disebut dengan autoinducers. Saat suatu bakteri menghasilkan quorum, resistansi mereka terhadap obat meningkat. William Bentley dan rekan kerjanya dari University of Maryland telah mengembangkan pabrik skala nano yang terinspirasi dengan bio dimana dapat menangkap bakteri, mengantarkan suatu obat tepat pada permukaan bakteri dan menguji tanggapan mereka.
‘Keseluruhan tujuan ini adalah untuk memahami bagaimana patogen berkomunikasi dengan satu sama lain untuk membuat suatu tim yang lebih dapat berformasi ketimbang masing-masing sel individu. Kita sedang mencoba untuk mengungkap apa sih sebenarnya quorum tersebut dan bagaimana cara kerjanya’, jelas Bentley.
‘Kita sedang mengembangkan peralatan yang memungkinkan perakitan sistem biologikal kompleks yang cepat dan biaya efektif pada suatu alat sehingga alat tersebut dapat menginterogasi apa yang biologi sedang lakukan’, tambah Bentley.
Michael Shuler, seorang ahli tentang bioengineering pada Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat, menyebut konsep pabrik nano ‘Sangatlah membangkitkan minat dan baru’. Dia mengatakan bahwa sementara mengaplikasikan teknik untuk menangkap bakteri quorum sensing bacteria sangatlah penting dalam mengkontrol beberapa tipe bakteri tanpa antibiotik, thal yang paling menggembirakan bagi dirinya adalah potensi pabrik nano untuk diintegrasikan dengan microfluidic atau teknologi nano lainnya.
Di masamendatang Bentley berharap bahwa meningkatnya sistem biologikal kompleks dapat dirakit guna menciptakan kembali lingkungan yang bakteri dapat melihatnya. Dia berharap untuk menggunakan metode guna memelajari sistem lain termasuk epithelial dan sel kanker.
Fay Nolan-Neylan
Thorikul Huda, S.Si., M.Sc.
HIMKA SELENGGARAKAN MUBES
Pada Mubes yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 22 mei 2010 berhasil memilih Sdr. Muhammad Agung M. menjadi ketua HIMKA terpilih untuk periode 2010 – 2011. Terpilihnya Agung sapaan akrab dari mahasiswa angkatan 2009 ini sudah diduga sebelumnya, karena selama ini Agung telah berhasil mengawal beberapa agenda Milad Program D III Analis Kimia. “SELAMAT KEPADA PENGURUS HIMKA 2010-2011, SEMOGA PROGRAM D III ANALIS KIMIA BISA LEBIH MAJU”…. AMIN…..
D 3 ANALIS KIMIA SUKSES SELENGGARAKAN LOMBA CERDAS CERMAT KIMIA
Diakhir pertandigan yang berhasil mendapatkan Juara Pertama adalah tim dari SMU N 1 Bantul, sedangkan untuk juara 2 dan 3 masing-masing adalah tim dari SMU N 9 Yogyakarta dan SMTI Yogyakarta. Selisih nilai yang diperoleh dari ketiga tim tidak terlalu beda jauh dimana SMU N 1 Bantul mendapatkan nilai 1050, sedangkan SMU N 9 Yogyakarta dan SMTI Yogyakarta masing-masing adalah 975 dan 800.
Kegiatan lomba cerdas cermat kimia 2010 merupakan salah satu agenda yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Milad Program D III Analis Kimia yang ke-7. “Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan diantaranya Lomba Bulu Tangkis, Lomba Futsal dan masih ada beberapa kegiatan lagi yang akan kami selenggarakan”, ungkat Tatang Shabur selaku Ketua Program D III Analis Kimia.
Pengumuman Penting
Pengumuman kepada seluluh Mahasiswa D3 Kimia Analis bahwa Masuk Kuliah Dimulai Hari Senin, Tanggl 8 Februari 2010.
adapun Jadwal Kuliah bisa didownload di sini .
Kalender Akademik 2009/2010
Kalender Akademik 2009/2010